Desa Sibalanga Kecamatan Adiankoting Kabupaten Tapanuli Utara menjadi salah satu wilayah yang merasakan langsung dampak bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan Tapanuli dan sekitarnya.
Di tengah proses pemulihan sosial, ekonomi, dan lingkungan, sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) hadir membawa napas baru lewat Program Mahasiswa Berdampak yang digagas oleh Kemendiktisaintek. Program ini dirancang agar menjawab dua kebutuhan sekaligus, yaitu pemulihan pasca bencana dan penguatan ketahanan jangka panjang melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Sibalanga.
Selama 23 hari, para mahasiswa dari UNITA tidak hanya datang sebagai relawan, tetapi sebagai mitra belajar dan penggerak perubahan di Desa Sibalanga.
Program yang bertajuk “Pengelolaan mitigasi bencana untuk mengurangi resiko sosial, ekonomi, kesehatan dan meningkatkan ketahanan masyarakat di Desa Sibalanga Kabupaten Tapanuli Utara” itu diketuai Dekan Fakultas Ekonomi UNITA Dr Rosalinda Septiani Sitompul SE MM dan didampingi beberapa dosen yaitu Holmes Rajagukguk SPd MHum, Juandi Nababan SPd MPd dan Lambok Simatupang SPm MP.
Selama lebih dari 3 minggu tinggal bersama warga, mahasiswa UNITA memulai pengabdian dari hal yang paling mendasar seperti gotong royong kebersihan lingkungan. Mereka bersama masyarakat membersihkan area permukiman, fasilitas umum dan titik-titik yang berpotensi menjadi sumber penyakit maupun pemicu bencana susulan.
Kegiatan itu bukan sekadar kerja fisik, tetapi edukasi langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana berkelanjutan.
Langkah berikutnya adalah penguatan aspek ekologis melalui penanaman pohon durian, coklat dan kayu manis.
Tanaman itu dipilih bukan hanya untuk penghijauan dan penahan erosi tetapi juga sebagai komoditas bernilai ekonomi bagi warga di masa depan. Mahasiswa juga mengajarkan kepada masyarakat cara pembuatan pupuk organik padat (POP), sehingga masyarakat tidak bergantung penuh pada pupuk kimia sekaligus memanfaatkan bahan organik lokal. Pendekatan itu sejalan dengan semangat pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Rektor UNITA Dr Meslin Silalahi MPd menyampaikan terima kasih kepada Kemendiktisaintek yang telah menggagas program tersebut. “Program ini dirancang agar menjawab dua kebutuhan sekaligus yaitu, pemulihan pasca bencana dan penguatan ketahanan jangka panjang melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Sibalanga,” ujarnya.
Dekan Fakultas Ekonomi UNITA Dr Rosalinda Sitompul SE MM sebagai Ketua Tim dalam relisnya kepada SIB, Jumat (6/3) menjelaskan, dampak bencana yang terjadi di Desa Sibalanga tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis, terutama pada anak-anak. Program mahasiswa berdampak ini dirancang agar menjawab dua kebutuhan sekaligus yaitu, pemulihan pasca bencana dan penguatan ketahanan jangka panjang melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Sibalanga.
“Menyadari hal itu, mahasiswa UNITA menyelenggarakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak PAUD dan SD di Desa Sibalanga. Melalui permainan edukatif, aktivitas kreatif dan interaksi yang hangat, anak-anak diajak memulihkan rasa aman dan kegembiraan belajar mereka,” jelasnya.
Dr Rosalinda juga mengungkapkan, pada kesempatan itu mahasiswa juga memberikan hadiah buku dan pulpen sebagai simbol harapan dan penyemangat agar anak-anak tetap bersemangat sekolah meski baru saja melewati masa sulit.”Program itu tidak berhenti pada pemulihan, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Potensi kakao di Desa Sibalanga dibaca sebagai peluang strategis untuk meningkatkan pendapatan warga. Bersama masyarakat dan lembaga desa, tim menyusun inisiatif pengolahan biji kakao menjadi produk coklat batangan dengan merek “Tapanuli Resiliansi Kakao (Tapanres Kakao)”,” terangnya.
Menurutnya, nama tersebut mencerminkan semangat bahwa pemulihan desa bukan hanya bangkit dari bencana, tetapi juga membangun ketangguhan ekonomi berbasis potensi lokal.
“Untuk memastikan program tidak berhenti pada pelatihan, tim Abdimas UNITA bekerja sama dengan Kemdiktisaintek melalui skema Bima menyerahkan alat teknologi tepat guna pengolahan coklat berupa mesin pengupas, mesin roasting, cocoa grinder, crusher dan mesin penepung coklat. Perangkat itu diharapkan memperkuat rantai nilai kakao dari bahan baku menjadi produk siap jual yang berdaya saing,” paparnya.
Dr Rosalinda mengungkapkan, penerima manfaat utama adalah mitra tim Abdimas yaitu Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) Desa Sibalanga yang diketuai Pernando Aritonang dan PKK Desa Sibalanga yang diketuai Maria AS Lumbantobing.”Penyerahan alat dilaksanakan pada 2 Maret 2026 dan disaksikan oleh pemerintah desa melalui Sekretaris Desa Sibalanga David Hutabarat yang mewakili Kepala Desa. Momentum itu menjadi simbol sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam agenda pemulihan dan penguatan ketahanan desa pasca bencana,” terangnya.
Menurutnya, kehadiran teknologi tepat guna diharapkan mampu mempercepat transformasi kakao di Desa Sibalanga dari komoditas mentah menjadi produk olahan bernilai tambah yang memperkuat ekonomi rumah tangga di desa tersebut.
